PENDIRIAN MANUSIA ALIGATOR
Penulis : Herli Hermawan
PART 1 :
Pagi yang cerah, seorang
laki-laki yang sudah bersiap-siap untuk fighting
bahwa hari ini adalah hari classmeet
semester 1 di sekolahnya. Dan ia termasuk kedalam panitia classmeet tersebut. Ia mulai memanaskan mesir motornya. Ia juga
berfikir bahwa apakah hari ini dia dan teman-teman OSIS nya bakalan Sukses
menjalankan acara classmeet tersebut
? Lalu, ia pun berangkat ke sekolahnya dengan sebuh motor Mio Automatic berwarna hitam.
Tiba di sekolah, ia begitu
antusias untuk menjalankan acara tersebut. Ia tak begitu peduli seberapa
lelahnya yang bakalan ia hadapi.
“Selamat pagi, kawan,” Sahut laki-laki tadi.
“Pagi juga, Pay. Tumben Lo datang awal, biasanya telat mulu,” Ricky membalas.
“Ah, elu mah. Gue lagi semangat nih buat jalanin tuh acara. Makanya gue datang awal,”Balas Epay.
“Ah, masa ? ciyus ? miapah ?”Emon membalas.
“Sial, Alay ah lu. Pantes”Epay menjawab dengan kesal.
“Hahaha, Biasa aja sih”Emon membalas dengan tertawa terbahak-bahak.
“Selamat pagi, kawan,” Sahut laki-laki tadi.
“Pagi juga, Pay. Tumben Lo datang awal, biasanya telat mulu,” Ricky membalas.
“Ah, elu mah. Gue lagi semangat nih buat jalanin tuh acara. Makanya gue datang awal,”Balas Epay.
“Ah, masa ? ciyus ? miapah ?”Emon membalas.
“Sial, Alay ah lu. Pantes”Epay menjawab dengan kesal.
“Hahaha, Biasa aja sih”Emon membalas dengan tertawa terbahak-bahak.
Tak lama kemudian, datang seorang
Ketua OSIS.
“Woi, woi. Baris. Bang Aan datang”Sahut Ricky.
“Siap Gerak ! Istirahat ditempat Gerak !”Teriak Bang Aan memberikan aba-aba.
“Ya, saya berharap kepada kalian semuanya agar bisa bekerja sama dalam satu tim. Ini acara kita, Jadi jangan sampai acara ini ada yang menghambat. Saya tidak mau melihat kalian semua malas bekerja dan bergaul dengan teman-teman kelas kalian. Jika ada yang seperti itu, Kalian akan dapat hukuman keras dari saya !”Pengarahan dari Bang Aan.
“Setelah ini, kalian diharapkan untuk mengambil sound system dan Gitar listrik, lalu ambil meja dan kursi untuk Juri yang akan menilai peserta-peserta lomba kita. Kalian mengerti ?”Lanjut Bang Aan.
“Siap Ngerti !”Jawab semua anak pengurus OSIS.
“Woi, woi. Baris. Bang Aan datang”Sahut Ricky.
“Siap Gerak ! Istirahat ditempat Gerak !”Teriak Bang Aan memberikan aba-aba.
“Ya, saya berharap kepada kalian semuanya agar bisa bekerja sama dalam satu tim. Ini acara kita, Jadi jangan sampai acara ini ada yang menghambat. Saya tidak mau melihat kalian semua malas bekerja dan bergaul dengan teman-teman kelas kalian. Jika ada yang seperti itu, Kalian akan dapat hukuman keras dari saya !”Pengarahan dari Bang Aan.
“Setelah ini, kalian diharapkan untuk mengambil sound system dan Gitar listrik, lalu ambil meja dan kursi untuk Juri yang akan menilai peserta-peserta lomba kita. Kalian mengerti ?”Lanjut Bang Aan.
“Siap Ngerti !”Jawab semua anak pengurus OSIS.
Kemudian, Pengurus OSIS mulai
bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing. Dan kini tiba saatnya acara pun
dimulai.
“Peserta Pertama Lomba SMANSAKA Idol, kita panggilkan Verina Dewi berasal dari kelas X.D.”Sorak MC yang memanggil peserta pertama.
“Peserta Pertama Lomba SMANSAKA Idol, kita panggilkan Verina Dewi berasal dari kelas X.D.”Sorak MC yang memanggil peserta pertama.
Semua penonton pun bertepuk
tangan.
“Ia akan menyanyikan 2 buah lagu. Lagu wajibnya yakni Mars SMAN 1 Karimun dan Lagu bebasnya yaitu Someone Like You”Lanjut MC.
Detik demi detik telah dilalui.
Acara pun hampir selesai. Terlihat Epay yang duduk menonton di depan kelas X.E
bersama Afi. Tiba-tiba, datang seorang perempuan yang merupakan teman
sekelasnya Afi yang duduk diantara kami berdua.
“Juk, Minjem BB”Pinta Afi.
“Nah, jangan bajak bbm gue ya”(Sambil mengulurkan tangan memberikan BB)
“Oke, Barbie. Hahaha.”Rayuan Afi sambil tertawa.
“Juk, Minjem BB”Pinta Afi.
“Nah, jangan bajak bbm gue ya”(Sambil mengulurkan tangan memberikan BB)
“Oke, Barbie. Hahaha.”Rayuan Afi sambil tertawa.
Epay hanya terdiam. Ia merasakan
suatu perasaan lain yang ada dibenaknya. Ia pengen
sekali mendekati perempuan tersebut. Ia mengira bahwa perempuan tersebut sangat
baik dan lugu. Apalagi pintar di kelasnya dengan bukti ranking-ranking yang didapatkannya.
Epay tak mengerti mengapa dia bisa menyukai sosok perempuan layaknya Ajuk. Yang
ada di benaknya hanyalah cara untuk bisa mendekati Ajuk. Apapun caranya ! Meski
mustahil baginya, tapi tak mengapa. Kalau udah persoalan cinta, hal mustahil
pun menjadi mungkin bagi orang-orang yang percaya dengan keajaiban dan kekuatan
cinta. Hal itulah yang dipegang teguh oleh Epay dalam mendapatkan perempuan
idamannya.
Acara Classmeet pun berakhir. Dan
para siswa pun mulai pulang kerumahnya masing-masing. Namun, Pengurus OSIS
belum bisa pulang karena harus membersihkan dan membereskan Aula dan menyimpan
semua alat-alat pada tempatnya. Epay terlihat melamun, melamunkan seorang
perempuan tadi. Ia tampak lamban bekerja karena melamun. Tiba-tiba…
“Epay ! Apa yang anda lamunkan ? Kerja, Kerja !”Teriak Pembina OSIS yakni Bapak Rahmad Faisal S.Sos.
“Epay ! Apa yang anda lamunkan ? Kerja, Kerja !”Teriak Pembina OSIS yakni Bapak Rahmad Faisal S.Sos.
Dan kemudian, Epay pun bekerja.
1 Jam kemudian, Pengurus OSIS
melakukan briefing guna memberikan
pengarahan terhadap acara yang sukses dijalankan. Briefing dibuka oleh Sekretaris
selaku moderator. Dan kemudian dilanjutkan oleh pengarahan dari Bapak Rahmad
Faisal S.Sos selaku Pembina OSIS.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pertama-tama marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-Nyalah kita sukses menjalani acara kita pada hari ini. Langsung saja. Saya sangat bangga kepada kalian semua yang sudah mau bekerja keras demi suksesnya acara ini. Namun ada sedikit koreksi yang akan saya beritahukan yaitu tentang beres-beres ketika acara telah selesai. Kenapa kalian kerjanya lamban ? Hanya membereskan itu saja membutuhkan waktu yang lama. Epay, Anda melamun tentang apa tadi ? Kalau melamun ketika bekerja, Jangan jadi pengurus OSIS ! Saya tak butuh anggota yang seperti itu.”
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pertama-tama marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-Nyalah kita sukses menjalani acara kita pada hari ini. Langsung saja. Saya sangat bangga kepada kalian semua yang sudah mau bekerja keras demi suksesnya acara ini. Namun ada sedikit koreksi yang akan saya beritahukan yaitu tentang beres-beres ketika acara telah selesai. Kenapa kalian kerjanya lamban ? Hanya membereskan itu saja membutuhkan waktu yang lama. Epay, Anda melamun tentang apa tadi ? Kalau melamun ketika bekerja, Jangan jadi pengurus OSIS ! Saya tak butuh anggota yang seperti itu.”
Seketika hening mendengarkan pengarahan
dari Pembina OSIS.
“Ya, saya harap itu tidak akan terulang untuk kedua kalinya lagi. Dan untuk Epay, setelah ini anda harus Push Up 50 Kali. Hanya itu yang dapat saya sampaikan. Terlebih dan kurang saya mohon maaf. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”
“Ya, saya harap itu tidak akan terulang untuk kedua kalinya lagi. Dan untuk Epay, setelah ini anda harus Push Up 50 Kali. Hanya itu yang dapat saya sampaikan. Terlebih dan kurang saya mohon maaf. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”
Kemudian dilanjutkan dengan
pengarahan dari Ketua OSIS. Pengarahannya pun hampir sama dengan Bapak Faisal
tadi. Tak lama kemudian, Moderator pun menutup briefing. Semua pengurus OSIS pun pulang kecuali Epay yang mendapat
hukuman dari Pembina.
“Ah, sial. Malah dapet hukuman segala. Sudahlah jalani saja !”(Berbicara didalam hati)
“Ah, sial. Malah dapet hukuman segala. Sudahlah jalani saja !”(Berbicara didalam hati)
Dan akhirnya, Epay mulai
melaksanakan hukumannya dan dihitung oleh Wakil Ketua OSIS yang bernama Bang
Embem. Hitungan pun dimulai.
“Satu, Dua, Tiga, Empat, Lima, Enam, Tujuh, Delapan, Sembilan, Sepuluh, Sebelas, Dua Belas, Tiga Belas, Empat Belas, Lima Belas, Enam Belas, Tujuh Belas, Delapan Belas, Sembilan Belas, Dua Puluh, Dua Puluh Satu, Dua Puluh Dua”
“Huh, Pegel-pegel ni tangan saya, bang.”
“Tak ada kata pegal dalam hukuman ! Lanjut lagi !”
“Satu, Dua, Tiga, Empat, Lima, Enam, Tujuh, Delapan, Sembilan, Sepuluh, Sebelas, Dua Belas, Tiga Belas, Empat Belas, Lima Belas, Enam Belas, Tujuh Belas, Delapan Belas, Sembilan Belas, Dua Puluh, Dua Puluh Satu, Dua Puluh Dua”
“Huh, Pegel-pegel ni tangan saya, bang.”
“Tak ada kata pegal dalam hukuman ! Lanjut lagi !”
Kemudian, Hukuman pun telah
selesai dilaksanakan. Pada saat itu, Bang Embem dan Epay pun pulang dengan
segudang kelelahan yang mereka berdua rasakan dan begitu juga dengan Pengurus
OSIS lainnya yang terlebih dahulu pulang kerumahnya masing-masing.



0 komentar:
Posting Komentar